Readers

Maudy's All Time Fave Movies

Update : Semua orang punya film-film favoritnya sepanjang masa. Sebuah film yang bagi kita biasa bisa memiliki efek luar biasa bagi yang lain begitupun sebaliknya. Faktor sentimental seperti memori atau kedekatan personal dengan cerita saat menonton bisa jadi yang lebih utama, selain faktor-faktor lain. Berikut adalah kumpulan film-film favorit saya sepanjang masa yang tentunya akan semakin bertambah (atau bahkan berubah) semakin saya lebih banyak menonton lagi. Kali ini saya putuskan untuk dibatasi hanya beberapa (termasuk satu sutradara diwakilkan oleh satu film, walau sulit sebenarnya). Untuk melihat daftar panjangnya bisa dilihat di mubi saya. Adakah di antaranya yang juga menjadi favoritmu?


Lost In Translation (Sofia Coppola, 2003)
 


Statis. Datar. Tanpa tujuan dan terus mencari-cari. Sulit memilih antara ini atau Somewhere (2010) yang juga merupakan kandidat terbaiknya, tapi ingat saja bahwa dalam kebosanan dan keinginan untuk bebas, ada pelukan hangat yang menghibur di akhir film. 

Chungking Express (Wong Kar Wai, 1994)


Film ini terus nyaman ditonton berulang kali bahkan sebagai pengantar tidur. Orang-orang unik yang patah hati : kaleng-kaleng tahun 1996 yang akan kadaluarsa, seorang polisi kesepian ingin merayakan ulang tahun ke-25, ada juga seorang perempuan yang suka menyelinap masuk apartemen orang lain. Yang kelam akan kembali terang. Film yang memberikan semangat dan keinginan untuk jatuh cinta lagi.

The Isle (Kim Ki-Duk, 2000)


Pria dan wanita, ego mereka, pengorbanan dan kepemilikan. Yang romantis tidak selalu manis. Tapi bagi film ini, apa pula itu manis atau romantis? Kadang definisi hanya membatasi. Sementara cinta kata yang terlalu asing, mungkin sebut saja sebagai "hasrat manusia".


The Kid With A Bike (Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne, 2012)


Rosetta dalam Rosetta (1999) dan Cyril sama-sama berkepribadian keras, pemberontak, walau sebenarnya terpendam keinginan untuk mengenal seseorang dengan lembut. Moment of affection. Hanya film ini yang membuat gambar seorang perempuan dewasa dan anak kecil piknik bersama terasa begitu hangat dan indah, selalu terekam di ingatan saya.


Taxi Driver (Martin Scorsese, 1976)


Orang bilang, carilah kesibukan agar pikiranmu tidak kosong. Travis melakukan segala hal agar pikiran, atau dalam hal ini jiwanya, punya arti. Memang bukan orang yang ingin kamu kenal di dunia nyata tapi dia selalu ada untuk mereka yang merasa terbuang, putus asa dan terus berteriak untuk dapat didengar.


Pandora's Box (G.W. Pabst, 1929)



Film tentang obsesi yang paling gila dan berani. Menontonnya adalah pengalaman yang tidak akan sama dengan film-film lain, bukan film untuk moralis tapi hanya tentang seorang gadis yang keinginannya tak habis-habis. Bila kamu atau saya membuat film sehebat apapun suatu hari nanti, tetap tidak ada yang bisa membuat karakter seperti Lulu dua kali.

Baca juga :



Frances Ha (Noah Baumbach, 2012)


Seperti orang bilang bahwa lewat sebuah kesalahan, kita bisa menemukan jalan yang benar. Film ini adalah tentang seseorang yang melakukan lebih dari satu kesalahan sementara jalan yang benar ada di depan matanya. Kenapa ia bisa sebodoh itu? Saya berpikir dan mengidentifikasikannya dengan diri saya, dan pertanyaannya pun berganti : kenapa saya bisa sebodoh itu? Frances Ha adalah cermin yang dengan jelas memperlihatkan fase ceroboh : berpindah-pindah tempat, krisis uang tapi berfoya-foya, menolak kepastian demi angan yang belum tentu terwujud. Saya tidak bilang ini film menyenangkan, tapi menenangkan berkat penokohan Greta Gerwig.


Baca juga 

 



The Dreamers (Bernardo Bertolucci, 2003)


Masa muda, film, politik, gairah. Film ini penuh dengan referensi di sana-sini sehingga sulit untuk tidak mencintainya. Coba bayangkan bila saya atau anda adalah Matthew dan memulai petualangan singkat dengan orang-orang aneh “satu golongan” yang penuh rasa ingin tahu, mereka yang siap menerima kegilaan anda untuk bersama merayakannya. Buat saya ini adalah sebuah feel-good movie, karena kalaupun tidak ada, setidaknya di film ini saya merasa diterima dalam cerminan diri mereka bertiga.

Sabar Dulu Dong! (Ida Farida, 1989)

Ini murni sebuah memori waktu kecil. Saya sekitar umur 8 atau 9 tahun menonton film ini di televisi sementara sepupu-sepupu saya berdatangan dan main game di ruang sebelah. Apa yang menarik dari memori seperti itu? Hanya saja rasanya begitu menyenangkan. Saya tidak bisa memutar kembali mesin waktu tapi setidaknya ada film ini untuk mengenang kembali. 

Wendy and Lucy (Kelly Reichardt, 2008)


Tidak ada yang tahu siapa dia dan kenapa ia sendirian. Dalam malam-malam yang dingin, ia akan tidur dimana saja demi satu tujuan : mencari anjingnya yang hilang. Semua itu terasa begitu remeh dan sederhana bila dijelaskan lewat kata-kata tapi lewat medium gambar, kita melihat banyak tentang sisi rapuh Wendy sekaligus kekuatannya untuk terus berjuang. Film yang hebat tentang tersesat.

City Lights (Charlie Chaplin, 1931)


Sebelum mengenal siapa itu Charlie Chaplin, City Lights adalah pengenalannya. Banyak orang bilang untuk pertama tonton dulu Modern Times, tapi yang ini lebih dahulu memikat di hati. Duet Chaplin - Virginia Cherill buat saya mengesankan, terutama pada ending film yang (selalu) berhasil menyentuh perasaan.

A Woman Under The Influence (John Casavettes, 1974)



Paling mudah untuk memaknainya sebagai (hanya sekedar) film tentang seseorang dengan mental illness, tapi film ini lebih dari itu, tentang sebuah panggung pernikahan dan bagaimana perbedaan antara mencintai dan melukai bisa jadi begitu tipis. Menontonnya seperti mengingat memori pertengkaran sebuah keluarga atau orangtua kita sendiri : menyakitkan dan bahkan menyedihkan, tapi tidak pernah sekalipun terlihat memaksa. Inilah realita yang harus kita hadapi sekaligus ingin sekali kita hindari.

Hana and Alice (Shunji Iwai, 2004)



 Saya tidak tahu harus memulai menceritakan apa tapi anggap saja bahwa film ini adalah kumpulan terbaik dari setiap kenangan, harapan, impian, segala hal yang telah dan tidak pernah terjadi di masa kecil hingga remaja saya. Saya sudah sering dengar beberapa teman saya bilang bahwa ini film biasa, tapi percayalah, saya selalu merasa anak kecil yang masih bermain-main setiap menonton film ini. 



Ghost World (Terry Zwigoff, 2001)

 https://typeset-beta.imgix.net/rehost%2F2016%2F9%2F13%2F1f299786-2b0d-4428-8455-82d8c8c260fa.jpg

Ini adalah dunia yang terasa aneh tepat setelah lulus sekolah dan tidak tahu ingin melakukan apa-apa. Tokoh utamanya terus-menerus melakukan kesalahan—egois pula, tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menyukainya, mungkin karena pelan-pelan Enid juga sama saja dengan saya. Memang menyedihkan bagaimana kita berpikir semua akan lebih baik setelah SMA selesai, ternyata lebih banyak kekacauan yang menunggu untuk terjadi.

It’s A Wonderful Life (Frank Capra, 1946)


http://2d0yaz2jiom3c6vy7e7e5svk.wpengine.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2014/12/Its-a-Wonderful-Life-Screenshot-800x430.jpg

Yang menarik sebenarnya film ini menyimpan sesuatu yang pahit untuk kemudian dirayakan dengan cara yang manis. Ini adalah film yang realistis dan sesungguhnya menyedihkan mengingat bagaimana sebuah mimpi dan keinginan menggebu-gebu harus takhluk pada kenyataan. Namun, mungkin bisa saja kita sebut ini sebagai film yang mengajarkan arti keikhlasan dan mensyukuri. Terdengar omong-kosong memang, tapi mungkin hanya itulah yang kita miliki dan kita harus belajar merayakannya?


















Comments

  1. Seneng ngeliat ada 2 film Kim Ki-duk nangkring disini
    tukeran link yaa :)

    movfreak.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters