Readers

Nerve (2016) : Ide Liar, Eksekusi Culun


https://i.ytimg.com/vi/Tyk2_bzca3E/maxresdefault.jpg

Nerve  // 2016 // Sutradara : Henry Joost, Ariel Schulman, Amerika // Pemain : Emma Roberts, Dave Franco, Emily Meade, Miles Heizer, Machine Gun Kelly



Orang yang berpikir popularitas, uang dan jumlah pengikut adalah paket yang tidak penting dalam kehidupan  pasti sudah tidak remaja lagi atau hanya belum pernah mengalaminya sendiri. Karena seperti yang tertuang di film Nerve, tiga hal itu seakan adiktif seperti game dan membuat kita yang mengalaminya ingin lagi dan lagi. Ini terlihat jelas dari tokoh Sidney (Emily Meade membawakan dengan baik karakter manja, egois dan haus ketenaran disini), teman Vee yang melakukan segala cara untuk menduduki posisi teratas dalam game Nerve. Nerve sendiri adalah game yang amat menarik dan sebenarnya cukup creepy, karena setiap orang akan diminta melakukan tantangan untuk bisa mendapatkan poin lebih (setiap level dibandrol uang sepersekian plus ketenaran dari watchers, sebutan untuk penonton game). Darimana tantangan berasal? Sugestinya dari orang-orang yang menonton dan bisa jadi dihimpun dari informasi pribadi si pemain. Ide soal game ini sendiri cukup orisinil, agak mengingatkan pada Pokemon Go dan bisa jadi lima tahun lagi atau bahkan kurang, benar-benar ada game yang serupa ini.


Singkat cerita, Vee (Emma Roberts) tokoh utama kita yang selalu dianggap pasif dan pecundang oleh teman-temannya memutuskan untuk “memberontak” dan menjadi players, sebutan untuk mereka yang berani melakukan tantangan. Ia lalu bertemu Ian (Dave Franco) seorang lelaki misterius yang ternyata juga sedang melakukan hal yang sama. Watchers kemudian menantang mereka berdua sampai kemudian tantangan mulai semakin besar dan bahkan semakin berbahaya. Ada saat-saat saya teringat Final Destination disini bahkan mengharapkan ini akan menjadi semacam itu. Tapi ternyata sang sutradara, Henry Joost dan Ariel Schulman (orang dibalik Catfish, satu film dokumenter terbaik yang saya suka) punya rencana lain.

Memang benar bahwa ide adalah hal pertama yang membuat penonton tertarik dan bertahan. Maka ide tentang game truth or dare di dunia internet membuat ekspektasi menanjak naik dan terus mengharapkan sesuatu yang tidak terduga akan terjadi selanjutnya. Satu jam pertama ketika tantangan demi tantangan masih dijajal oleh Vee dan Ian plus cerita kecemburuan Sidney yang merasa terkalahkan masih terasa fun, beberapa misteri tersembunyi dan kita menduga bahwa cerita akan dibawa lebih jauh dan gelap lagi. Namun Nerve sayangnya pada babak ketiga terasa kacau dan mentah. Entah apa jadinya bila film ini disutradarai oleh orang seperti Eli Roth atau John Erick Dowdle, namun ketika duet Joost – Schulman mengarahkannya, film ini hanya berakhir sebagai cute thriller bagi pasar remaja milenial. Atau mungkin memang itu pasar utamanya.

Padahal Nerve punya babak pertama dan kedua yang sangat menyenangkan karena masih lekat dengan ide premisnya yang memang orisinil. Niat yang sudah cukup baik sebenarnya untuk menampilkan konsep anonimitas di internet dengan adegan banyak penonton bertopeng merayakan kegilaan sang pemain namun sayangnya dalam beberapa bagian terasa amat harus dijelaskan dan memaksa, tidak selancar ketika bercerita sebelumnya. Antara tidak mau ambil risiko atau tidak tahu mau dibawa kemana lagi eksekusinya, membuat filmnya otomatis kehilangan potensi. ide film ini bisa berubah jadi kegilaan yang menghibur atau horor besar namun pembuat dan penulisnya memilih untuk menuntaskannya dengan cara yang terlalu cari aman. Soal karakter sendiri, banyak hal yang bisa dieksplorasi namun kemudian hanya diperlihatkan tipis atau sebatas tanggung. Tujuan Vee yang awalnya pemalu ingin menjadi frontrunner bisa dimengerti, namun karakter Dave Franco seakan hanya menjadi pemanis bagi penonton remaja perempuan dan bahkan dalam hal ini, karakternya tak sekuat karakter teman Vee, Tommy (Miles Heizer) yang dengan sangat cepat bisa kita simpulkan sebagai seorang nerd yang diam-diam menyukai Vee. Ini hanya demi memenuhi harapan penonton bahwa yang cantik harus bersanding dengan yang tampan, sehingga kemudian karakter Tommy dijadikan sekedar sidekick padahal saya mengira ia akan menjadi peranan penting bagi cerita melebihi Ian (well, sebenarnya di film dia memang punya peranan lebih penting menuntaskan masalah).  Bicara tentang chemistry pun tidak ada yang istimewa antara Emma Roberts dan Dave Franco kecuali bahwa keduanya membawa pesona visual masing-masing ke depan layar.

 https://3.bp.blogspot.com/-OcpV9yJGneM/V5hZ4bOkYlI/AAAAAAAAJr4/qaiNJ_QB5D4ybW99Hw4LPMl-N-eKl2pRQCLcB/s1600/maxresdefault.jpg

 Nerve ibarat mampir di sebuah pesta remaja dimana ada Awkarin sedang mabuk berat dan melakukan kegilaan, kita terhibur dan menantikan apa hal di luar batas berikutnya yang akan ia lakukan. Namun mendadak Anies Baswedan datang dan mengacaukan pesta dengan bicara tentang moral di dunia internet di hadapan semua anak muda. Semua kecewa, pesta pun bubar. Anies Baswedan dan pesta remaja tentu dua hal yang tidak cocok. Begitupun ide liar dalam eksekusi yang culun. Apakah ini film yang buruk? Tidak, hanya saja sayang ide sehebat itu harus diselesaikan dengan cara amat lurus dan medioker.


 

Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters