Readers

The Lobster (2015) : Ketika Menjomblo Pun Dihukum


The Lobster  // 2015 // Sutradara : Yorgos Lanthomos, Inggris  // Pemain : Colin Farrel, Rachel Weisz, Lea Seydoux, Ben Wishaw, John C. Reilly



Jomblo yang sering menjadi objek jokes selama beberapa tahun belakangan (dan nampaknya masih menjadi isu yang laku) sering diinterpretasikan sebagai suatu gambaran kesedihan, kemuraman, kesepian dan kegagalan. Meski banyak pula yang hidup tenang dengan pola pikir single is happy,  tak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang dipengaruhi gambaran ideal berpasangan yang ada di lingkungan sekitar juga dari apa yang ditularkan karena media film, televisi dan cerita-cerita di buku romansa. Pada akhirnya, kebanyakan dari kita merasa takut untuk menghadapi status sendirian dalam waktu lama.


Yorgos Lanthimos adalah sutradara yang pintar melihat isu melajang sendirian ini sebagai gagasan cerita yang kemudian bukan hanya mampu dikembangkan dari segi personal namun mengangkat suatu kritik dan singgungan dalam skala yang lebih besar lagi. Yorgos sebelumnya sudah membuat Dogtooth, satu film yang pernah masuk nominasi Best Foreign Language di Oscar tentang seorang kepala keluarga yang mengisolasi anak-anaknya sendiri dari dunia luar. Kini lewat The Lobster sebagai debut film Inggris pertamanya, Yorgos memberi fantasi apa yang terjadi bila seandainya jomblo yang sering dianggap jokes receh di Indonesia menjadi sebuah hukuman serius di masa depan.

Dengan set dunia distopia, sebuah peraturan kota mengatur semua orang harus berpasangan atau akan diubah menjadi binatang bila gagal mendapat jodoh. Di satu hotel, David (Collin Farrel) yang ditinggalkan sang istri karena pria lain, menjadi salah satu kandidat yang harus segera menemukan pasangan baru. Ketika kandidat-kandidat yang lain susah payah bahkan memaksa untuk memikat jodohnya, David mendapat pengalaman buruk karena memilih jodoh yang tidak tepat. Ia akhirnya memutuskan lari ke kubu lain yang kontra pada ide berpasangan. Kubu itu digerakkan oleh seorang Pemimpin (Lea Sydeoux) yang ironisnya juga menetapkan peraturan ketat pada anggotanya yaitu tidak boleh saling jatuh cinta. Maka sekali lagi David pun berhadapan dengan aturan yang memberangus kemerdekaan dirinya sendiri padahal dia mulai jatuh cinta dengan seorang wanita (Rachel Weisz) teman satu kubunya. Berikutnya, David pun berhadapan dengan keputusan-keputusan yang dapat membuat penonton mempertanyakan lagi apa itu makna cinta, nafsu dan kesendirian lewat apa yang ditampilkan di sepanjang layar.


Akan sangat mudah mencintai The Lobster bila sebelumnya sudah mengagumi karya sutradaranya yaitu Dogtooth. Selain gaya penyutradaraan dan penggambaran adegan-adegan yang aneh bahkan terkesan lucu, ada kesamaan lain yaitu tentang tema isolasi, penempatan protagonis yang bingung, juga kritik hak pribadi sebagai manusia yang harus diatur-atur negara, institusi atau satu gerakan. Bila di Dogtooth kita menemukan seorang gadis polos yang setiap hari dibodoh-bodohi orangtuanya supaya tetap berada di dalam rumah, di The Lobster kita menemukan seorang pria dewasa yang bahkan tidak bebas untuk menentukan hak untuk mencintai. Saya pribadi selalu menganggap Dogtooth itu sebenarnya bukanlah film tentang keluarga melainkan secara tidak langsung gambaran pemerintahan totaliter dimana kepala keluarga menempatkan anak-anaknya sebagai “rakyat” yang diajarkan dengan pemahaman-pemahaman bodoh agar tidak melawan kedigdayaannya sebagai pemimpin. Dogtooth sangat sesuai menggambarkan pemerintahan suatu negara seperti Korea Utara yang mengisolasi penduduknya dari apa yang terjadi di dunia luar dan memblokir semua akses agar mereka tidak berkembang. Bahkan mungkin bukan hanya Korut, kebijakan pemerintah kita belakangan ini yang memblokir beberapa situs, membuat blur gambar-gambar di televisi dan melarang ini-itu saja bisa dikorelasikan dengann gagasan yang ingin disampaikan Yorgos lewat Dogtooth dan The Lobster ini. 

Misalnya saja ada adegan dimana di panggung hotel, para karyawan mempropagandakan betapa pentingnya memiliki pasangan pada seluruh kandidat dan betapa membahayakannya bila berakhir sendirian. Secara tidak langsung, adegan ini menyinggung pola pikir banyak orang yang menganggap ide memiliki pasangan adalah suatu keharusan dan jawaban kebahagiaan, yang berarti menjadi single adalah bencana dan solusi yang buruk. Di adegan lain, ada dua karakter yang akhirnya berhasil menjadi jodoh dan diberi pilihan memiliki anak seandainya hubungan mereka nantinya mengalami masalah. Melihat adegan ini rasanya langsung membuat saya teringat gambaran institusi perkawinan dimana seringkali kehadiran seorang anak dianggap bisa menjawab, mendamaikan atau menahan pasangan itu dari perceraianTidak hanya adegan-adegan itu, hampir keseluruhan film menyimpulkan satir tentang peraturan-peraturan institusi yang absurd dan jauh dari masuk akal. Tidak ada yang terasa dipaksakan namun malah amat meyakinkan untuk membawa kita ikut ke dalam ceritanya. 

Film-film Yorgos sendiri mungkin tidak begitu amat menonjolkan kekuatan akting para tokohnya sebagai highlight meski bukan berarti karakter-karakternya kosong atau tidak menarik. Collin Farrel memerankan David dengan baik, sebenarnya tidak banyak berbeda dengan karakter perempuan di Dogtooth yang awalnya diperlakukan layaknya kelinci percobaan lalu akhirnya memberontak. Rachel Weisz juga menjadi pendamping yang tepat namun yang paling menarik adalah penampilan pendukung dari Lea Sydeoux sebagai pemimpin kubu yang melawan peraturan harus berpasangan. Sesederhana tatapan dingin dan sorot mata tajamnya, Lea mampu membawakan antagonis yang nantinya akan turut menentukan nasib percintaan David.


Jadi apakah The Lobster adalah film yang sayang untuk dilewatkan? Jawabannya tentu iya. Saya selalu menyukai film-film yang memperbincangkan suatu hal yang terkesan sepele kemudian bisa dikembangkan menjadi bahan kritikan yang halus dan luas bahkan menyentuh isu-isu sosial nan politik tentang ketidakadilan suatu negara atau institusi. Lewat polesan yang unik dan berbeda, Yorgos sekali lagi berhasil melakukannya lewat The Lobster.




 

Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters