Readers

Night Time Picnic (2006) : Masa Muda dan Perjalanan Menyambut Kehidupan


Night Time Picnic  // 2006 // Sutradara : Masahiko Nagasawa, Jepang // Pemain : Mikako Tabe, Takuya Ishida, Tomohiro Kaku, Aki Nishihara, Shihori Kanjiya




"Sitting like this... It's not unheard of to be able to see time, it is? The time we’ve spent walking until now is there... And the time we have left lies that way. In the same way, each moment becomes the past... And there's no going back."


Adegan pertama memperlihatkan tiga gadis yaitu Anna, Takuko, Miwako sedang berbaring di padang rumput menatap bintang-bintang di langit. Mereka sedang mengikuti Walking Festival yang tiap tahun selalu diadakan di sekolah. Anna lalu tertawa kemudian disusul dengan dua sahabatnya yang ikut tertawa. Lalu terdengar narasi, “Walking together... that's all it was. But how did it become so special?” Buat saya adegan itu jadi terasa mengesankan.


Cerita bergulir di Walking Festival tahun selanjutnya dimana Anna tidak lagi bersama Takuko dan Miwako karena harus pindah sekolah ke Amerika. Takuko dan Miwako pun sudah terpisah kelas walau masih saling berteman baik. Di Festival di masa SMA terakhir Takuko inilah, banyak hal yang akan terjadi. Mulai dari hubungannya dengan Nishiwaki yang dipertanyakan semua teman-temannya, misteri apa arti surat Anna, isu gadis aborsi yang meluas ke seantero SMA, juga karakter-karakter lain yang punya cerita tersendiri selama ikut di festival tahunan ini. 




Film ini punya mood yang sangat ringan sekali. Sederhana. Awalnya saya sudah berprasangka filmnya akan jadi model film-filmnya John Hughes dimana karakter utama pasti akan mendapatkan hati orang yang disukainya lalu teman-temannya yang lain pun tahu-tahu mendapat jodoh juga, menjelma jadi film remaja romantis apalagi karena juga ada sidekick comedy-nya yang kental. Tapi prasangka saya salah total. Film ini sama sekali tidak ingin menjadi film imut-imut untuk konsumsi remaja melainkan malah mengambil jalan berbeda. Ini mengingatkan saya dengan Hana and Alice juga Love Letter, salah dua film terbaik Shunji Iwai tentang remaja namun kental membedah pendewasaannya. Film ini punya rasa yang sama. 

Ketimbang tenggelam dalam suasana gula-gula percintaan remaja, Night Time Picnic memilih untuk bercerita tentang proses pendewasaan dalam karakter-karakter yang hadir terutama karakter Takuko. Sejak awal cerita, Takuko dan Nishiwaki dianggap cocok berpacaran oleh semua teman mereka, namun ternyata keduanya menyimpan rahasia : mereka adalah saudara tiri, karena ayah Nishiwaki memiliki affair dengan ibu Takuko. Sampai akhir cerita tidak ada perubahan drastis tentang status hubungan mereka, dan bahkan membuat penonton pelan-pelan ragu apakah mereka sebenarnya saling memendam perasaan. 

Saya rasa ini adalah salah satu alasan kenapa filmnya jadi bagus. Karena sejak awal kita merasa mengetahui apa yang terjadi (film ini tidak ingin sama sekali mengumbar twist) namun ternyata setelah film berakhir kita mulai mempertanyakan lagi tentang hal yang kita yakin kita tahu tersebut. Semuanya begitu manis malah ketika kita tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Takuko dan Nishiwaki, seperti kita tidak tahu apa bisikan terakhir Bob Harris untuk Charlotte di Lost In Translation. 

Yang juga patut dicatat dari film ini adalah karakterisasi. Karakter-karakternya sama sekali tidak ada yang stereotype dan one dimensional (well, salah satu kelemahan film-film John Hughes kebanyakan adalah pada dua hal ini). Mereka hadir bukan untuk sekedar pencirian namun memang sebagai karakter remaja dengan beragam kepribadian. Saya menyukai karakter Takako yang nampak tenang, santai dan jarang berbicara. Ada juga karakter temannya yang jauh lebih tomboy dan outgoing, ada pula yang sangat ceria dan jenaka. Bahkan Anna pun punya karakter yang jelas walau tak banyak muncul di layar. Mereka adalah karakter-karakter yang memang ada di kehidupan masa SMA, bisa jadi teman kita atau malah kita sendiri. Yang paling menjadi pusat perhatian di film ini adalah karakter Nishiwaki (diperankan sangat cool oleh Takuya Ishida) yang mewakili tokoh lelaki cuek, susah ditebak dan bertampang dingin. Karakternya memang seperti mimpi basah di setiap manga, namun saya yakin banyak perempuan pasti menyukai karakternya disini. Dia mungkin kompetitor yang tepat untuk karakter seragam yang diperankan Takashi Kashiwabara di Love Letter. Adakah karakter seperti dia di SMA? Ada dan mungkin pernah menjadi taksiran kita sepanjang masa sekolah.



Dalam Night Time Picnic, Walking Festival menjadi penuh filosofi tentang masa muda sebagai perjalanan menyambut kehidupan yang lebih luas lagi. Bagaimana karakter-karakter ini mulai belajar jujur pada diri sendiri membuat kita merasa bercermin dengan setiap sudut pandang mereka. Tidak, tidak ada ciuman. Tidak ada pelukan atau kalimat cinta. Hanya Nishiwaki dan Takuko yang berpandangan erat di akhir film, saling tersenyum.


Dan itu sudah lebih dari sekedar manis.




Comments

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters